jangan bertanya
baiklah, sebelum aku menulis ini lebih jauh lagi, aku hanya ingin kau tahu bahwa surat yang kini kau baca pernah kutulis dengan luka yang menganga. Hingga untuk menarikan jemariku, aku harus menguatkan diri, dan juga hati.
#30harimenulissuratcinta
#1
ini surat pertamaku untukmu. ini kali pertamanya aku menyiapkan diri untuk bercerita lagi melalui kata-kata. ini pertama kali pula aku kembali melirik tulisan lama yang pernah bercerita tentang kita. tentang kamu yang menjadi ratu di mata angin empat penjuru. sebab ini yang pertama, jangan banyak bertanya, jangan pula banyak mengerutkan dahi. kau manis, dan aku tidak ingin wajahmu kecut hanya karena menerjemahkan aksara yang kuguratkan.
apa kabar, kamu? sudah lama rasanya aku tidak menanyakan kabar basa-basi ini. ah tidak, kau tidak usah menjawabnya. aku lebih senang menerka-nerka daripada tahu keadaan yang sebenarnya. aku lebih senang berandai-andai, bermain dengan imajinasiku sendiri tentang hatimu dibanding harus tahu siapa yang bertahta didalamnya. setidaknya ketidaktahuan menyelamatkanku dari kegilaan. setidaknya ketidaktahuan menyelamatkanku dari kegilaan. setidaknya, ketidaktahuan, menyelamatkanku, dari kegilaan.
ini menyenangkan, aku menulis surat ini begitu lancar. bukan karena aku penuh dengan ide, tetapi jemariku sudah ingin meledak karena saking lamanya tidak menceritakan kabar padamu yang tidak mau tahu kabarku. aku ingin kembali merasakan candu, merasakan rindu untuk memburu kata, hingga kemudian kau kebanjiran huruf yang akan menggenangi hatimu lalu membasuhnya dengan kata-kata cinta yang aku kirimkan.
putri, aku tidak lupa tentang kita yang saling bertukar tanya tanpa tanda tanya. aku ingat hela nafas yang kau sesapi ketika kita saling bertukar cerita. aku tidak mungkin alpa mengagumi parasmu yang dengan mudahnya meruntuhkan logika. sederhananya, aku merindukan kita.
jikapun aku mampu kembali pada hari dimana aku terlahir, aku ingin terlahir dikotamu saja, lantas menemukanmu dan menua bersama
ini surat pertamaku, ini awal yang buruk untuk akhir yang indah. semoga saja.
putri, aku sudahi dulu surat ini. bukan karena aku tidak ingin bercerita lebih lama, hanya saja jika kuceritakan semuanya, aku takut kau tidak ingin menunggu kedatangan suratku yang kedua dan seterusnya. aku pernah kehilanganmu, dan hanya pada tulisan-tulisan ini, aku tidak ingin itu terjadi lagi.
pada semesta yang mempertemukan kita, terima kasih
salam, wildan.